hip hip hura hura

Rabu, 14 April 2010

Pembunuhan Tragis

Ibu Bunuh Anak Kandung

Selasa, 13 April 2010 - 6:53 WIB

DEPOK (Pos Kota) – Nama ibu sadis itu Jamilah. Kini ia menjadi sorotan kebencian warga Perumahan Puri Depok. Pasalnya , Senin (12/4) ia tega mengabisi nyawa putra kandungnya .

“Saya kesal karena suami nggak pernah ngasih uang seperakpun buat belanja,” kata Jamilah kepada polisi yang memeriksanya. Kemarahan yang salah alamat, tentu saja.

“Atau apapun alasannya, tak ada anak yang layak disiksa,” ujar Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Ade Rahmat, usai memeriksa Jamilah.

bocah malang itu bernama Muspik. Ia tewas mengenaskan di rumahnya di Puri Depok RT 06/10 Sasak Panjang, Bojong Gede, . Ia ditemukan warga tergeletak dengan tubuh penuh luka lebam. Keruan saja, warga melaporkan ke Polsek Bojong Gede.

Kedatangan polisi, membuat Jamilah tak bisa berkutik. Polisi menemukan mulut bocah berusia sembilan tahun itu ada cairan busa. Selain itu, sejumlah luka memar tampak di punggung, tangan bahkan kedua mata korban.

Melihat kondisi tubuh Muspik yang mengenaskan , polisi mengambil kesimpulan bahwa bocah ini menemui ajal akibat siksaan. Dua sapu ijuk dan gayung dibawa polisi dari rumah itu sebagai bukti kejahatan .

“Sehari sebelumnya anak itu nangis meraung-raung tapi kok tiba-tiba saja ia tak bersuara sama sekali,” ungkap Mahmud, warga setempat. “Kami curiga karena kami mendengar anak itu dipukuli sampai menangis.”

SEKOLAH DIGANTI NGAMEN

Sejumlah warga mengungkapkan, Muspik adalah bocah yang patuh pada orangtua. Begitu nurutnya, anak itu bahkan tak menolak dipaksa sang ibu untuk membantu mencari nafkah dengan mengamen. Setiap hari, anak itu menjual suara bahkan sampai ke kawasan Senen. Hasil yang didapat digunakan Jamilah untuk membeli kebutuhan mereka.

“ Muspik diberhentikan dari sekolahnya. Padahal ia senang sekali bisa sekolah di SD Pabuaran,” kata Mahmud. “Tapi Jamilah lebih suka anaknya ngamen karena bisa dapat uang.”

Meski anaknya telah dipaksa memenuhi kewajiban orang dewasa, namun Jamilah bagai tak melihat perjuangan anaknya itu. Setiap kali kesal karena sang suami tak memberinya uang belanja, maka gagang sapu dijadikan alat pelampiasan marahnya. Muspik dipukuli. Anak kecil itu tak berdaya kecuali menangis kuat-kuat sambil meminta ampun.

Namun, siksaan kali ini membuat Muspik tak berdaya. Tubuh kecilnya tak bisa melawan amukan ibu. Ia kalah. Akhirnya Muspik pergi untuk selamanya. Satu sachet susu coklat ditemukan tergeletak di sebelah jasad yang penuh luka.

Mendapat pengaduan istrinya ditangkap polisi, Iwan kaget. Namun, kepada petugas ia mengaku istrinya memang kerap menganiaya sang anak. “Saya sering dapat kabar kalau istri saya sering memukuli Muspik,” kata pria yang bekerja sebagai pedagang daging. “Saya nggak habis pikir, kenapa dia bisa setega itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar